Malam itu kami memang tidur kurang nyenyak. Malam itu aku bermimpi tentang isteriku yang dioperasi caesar. Kulihat banyak dokter mengelilingi perut isteri, sedangkan aku berada di atas dekat kepala isteriku, sambil sesekali aku membisikkan semangat ke telinga isteriku. Kulihat isteriku sangat cemas dan ketakutan, dan badannya agak lemas, mungkin karena obat bius. Begitulah, bayangan operasi terus melayang-layang dalam mimpiku malam itu. Sementara itu isteriku berulang-ulang terjaga karena diarenya yang tak lagi bisa kompromi, entah berapa kali harus bolak-balik kamar mandi.
Esoknya saat bangun badanku terasa pegal-pegal dan malas sekali untuk bangun. Kulihat isteriku masih pulas tertidur. Kemudian aku bangunkan dan aku segera ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu kemudian melaksanakan sholat subuh. Tak berapa lama isteriku mengikuti, mengambil air wudhu kemudian sholat subuh. Pagi itu selepas sholat subuh sengaja aku memperpanjang dzikir dan doaku kepada Allah SWT untuk menenangkan diriku setelah mendengar kata operasi tadi malam. Belum puas dengan dzikir masih saya tambah lagi dengan membaca Al Qur’an, waktu yangs empat saya baca adalah surat Yaasin dan Surat Yusuf, seraya berdoa dalam hati atas keselamatan isteri dan anak dalam kandungannya.
Sekitar pukul 7 pagi aku dan isteriku duduk di ruang tamu. Pagi itu kami berdiskusi lagi dengan topik yang sama seperti tadi malam. Pagi itu akau merasa sudah agak tenang, begitu pula isteriku sudah lebih tenang. Apalagi diare isteriku setelah minum obat dari dokter sudah dapat berhenti total.
“Memang berat untuk memutuskan operasi atau tidak, kita juga tidak tahu apakah bayi ini bisa keluar normal atau tidak? kita juga gak apa risikonya kalau operasi atau tidak operasi. Kalau memang mau operasi kita juga harus musyawarah dulu dengan keluarga baik keluarga dari Bululawang atau kelaurga dari Jember.” Kataku memulai pembicaraan pagi itu.
“Lha iya itu, terus bagaimana? sepertinya posisi bayi memang agak ke samping kanan. Apa mungkin ya dalam waktu dekat ini posisi bayi bisa berubah lagi.” kata isteriku menimpali.
“Bagaimana kalau kita coba dulu telepon ibu Bululawang, apa perlu dipanggilkan Mbok Ha yang mijat bayi itu dulu atau bagaimana?” kataku mengajukan usul, “coba saya telepon dulu.”
” Ya coba dulu, siapa tahu posisinya bisa dikembalikan ke posisi yang tepat, sehingga bisa melahirkan secara normal.” kata isteriku.
Aku segera menelepon ibu di Bululawang dan menceritakan kronologis kejadian mulai periksa sampai pagi hari ini. Dan akhirnya ibu menawarkan, kalau nanti siang Mbok Ha akan dibawa ke Sawojajar untuk melihat kondisi isteriku, apakah masih mungkin untuk dikembalikan posisinya. Ya sudah, berarti keputusannya saya akan menunggu. Akan diusahakan dulu kalau-kalau ada kemungkinan untuk melahirkan secara normal. Kemudian hasil pembiocaraan ini aku sampaikan kepada isteriku dan isteriku mengiyakan saja.
” Sudah begini saja sekarang kita keliling ke rumah-rumah di kampung sini untuk silaturahmi berhalal bihalal. biar nanti juga agak tenang. Ya sekuatnya saja, gak tahu dapat berapa rumah, yang penting rumah-rumah yang dekat dapat dikunjungi.” kataku sambil mengajak isteriku untuks egera ganti pakaian.
Akhirnya pagi itu kami keliling mulai dari samping rumah, depan rumah, samping kanan dan kiri, ke rumah Pak RT, yah sekitar 7 rumah beitulah. ItupunĀ sampai rumah ke-7 isteriku sudah kelihatan kelelahan, akhirnya kami memutuskan untuk pulang. Tanpa terduga sampai di rumah, isteriku sambil melepas sandalnya dia berkata,
“Wah lega rasanya saya sekarang, soalnya hati saya sekarang agak mantap. Sudahlah saya sudah siap, kalau memang bisa diusahakan melahirkan normal yang melahirkan normal. Tetapi kalau harus operasi ya saya sudah siap, apapunlah. Yang penting selamat dan bayi saya juga selamat.”
Sambil sedikit tersenyum saya menimpali,
“Nah gitu a, ya kita usahakan dulu untuk dibenarkan posisinya oleh Mbok Ha, kalau memang harus operasi ya dijalanilah operasi. Mungkin inilah memang jalan yang sudah digariskan oleh Allah, Adik memang harus keluar dengan cara demikian, yang penting itu ibu dan bayinya bisa sehat dan selamat.”
Siang itu kami agak lega dan bisa makan dengan sedikit enak walaupun dalam benak kami masing-masing masih ada bayangan operasi yang terus melayang-layang, tetapi sudah tidak seperti tadi malam.
Silaturahmi memang membawa hikmah yang cukup besar bagi kami. Dengan silaturahmi bisa memberikan perubahan sikap yang cukup drastis. Dari sikap takut yang tak tentu berubah 180 derajat menjadi sikap pasrah, dari beban pikiran yang cukup berat menjadi sebuah nikmat yang harus disyukuri dengan ikhlas hati. Dengan menyampaikan semua keluhan dan ganjalan hati kepada orang lain yang lebih tahu atau lebih banyak memiliki pengalaman akan meringankan beban pikiran dan menguatkan hati kita untuk menghadapi cobaan atau melangkah dalam mengambil keputusan. Baru di saat seperti inilah aku memahami kekuatan silaturahmi yang selalu didengung-dengungkan oleh Rasullah SAW dalam hadits-haditsnya. Dahsyatnya silaturahmi bisa memutar fakta atau keyakinan yang awalnya masih belum terpikirkan menjadi sebuah keputusan yang diyakini ketetapannya.
Filed under: Tentang Si Kecil
waaa mengharukan sekali ceritanya…pas ojob operasi aku sdg sms ke fitri kalo gak salah. sms belum tak send dokternya tiba2 melintas…pak bayinya sdh lahir..wakakaka! cepet banget!