<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Nasikhlilsidi's Weblog</title>
	<atom:link href="http://nasikhlilsidi.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://nasikhlilsidi.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Fri, 30 Oct 2009 02:00:59 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='nasikhlilsidi.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Nasikhlilsidi's Weblog</title>
		<link>http://nasikhlilsidi.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://nasikhlilsidi.wordpress.com/osd.xml" title="Nasikhlilsidi&#039;s Weblog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://nasikhlilsidi.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Saat yang Dinanti Itu Kini Tiba</title>
		<link>http://nasikhlilsidi.wordpress.com/2009/10/30/saat-yang-dinanti-itu-kini-tiba/</link>
		<comments>http://nasikhlilsidi.wordpress.com/2009/10/30/saat-yang-dinanti-itu-kini-tiba/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Oct 2009 01:50:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nasikhlilsidi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tentang Si Kecil]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nasikhlilsidi.wordpress.com/?p=59</guid>
		<description><![CDATA[Isteriku dibawa masuk ke ruang operasi tepatnya pukul 11.40 WIB, aku bersama keluarga menunggu di luar dengan harap-harap cemas. Sambil tak lupa saya berkomat-kamit memanjatkan dzikir dan doa serta tak lupa tanganku selalu memutar tasbih yang ada dalam sakuku. Sekitar pukul 00.05 WIB saya diminta untuk tanda tangan persetujuan operasi caesar terhadap isteriku. Kemudian pukul [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nasikhlilsidi.wordpress.com&amp;blog=3804290&amp;post=59&amp;subd=nasikhlilsidi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Isteriku dibawa masuk ke ruang operasi tepatnya pukul 11.40 WIB, aku bersama keluarga menunggu di luar dengan harap-harap cemas. Sambil tak lupa saya berkomat-kamit memanjatkan dzikir dan doa serta tak lupa tanganku selalu memutar tasbih yang ada dalam sakuku. Sekitar pukul 00.05 WIB saya diminta untuk tanda tangan persetujuan operasi caesar terhadap isteriku. Kemudian pukul oo.10 pihak rumah sakit mengumpulkan tim. Sekitar pukul 01.15 Dokter Widjajanto datang dan langsung menuju ruang operasi, setelah sebelumnya sempat tersenyum kepada saya.</p>
<div id="attachment_68" class="wp-caption alignleft" style="width: 288px"><img class="size-medium wp-image-68" title="S4025809" src="http://nasikhlilsidi.files.wordpress.com/2009/10/s40258091.jpg?w=278&#038;h=208" alt="S4025809" width="278" height="208" /><p class="wp-caption-text">bayi mungilku</p></div>
<p>Sekitar pukul 01.36 WIB dari ruang operasi terdengar suara tangis bayi yang cukup keras.</p>
<p>Alhamdulillah anakku telah lahir dengan selamat. Tidak berapa lama kemudian dari ruang operasi keluar seorang bidan dengan membawa bayi kecil mungil. Bayi mungil tampan dibalut kain, tampak matanyayang berkedip-kedip merasakan udara dunia fana. Sudah bisa ngelihat nggak ya..?</p>
<p><span id="more-59"></span>Dari gendongan bidan kemudian diberikan kepada saya untuk diperdengarkan suara adzan dan iqomat. Untuk pertama kalinya aku gendong putra pertamaku, sambil tersenyum kubawa bayi kecilku menuju ke kamar yang telah disediakan oleh bidan. Kemudian kuperdengarkan adzn di telinga kanannya dan kulanjutkan dengan memperdengarkan iqomat di telinga kirinya. Selanjutnya kubacakan sholawat dan doa-doa. Dan akhirnya kucium pipi kanan dan kirinya serta kusentuhkan jempol kananku ke dahi bayi mungilku sambil mengucapkan doa &#8220;semoga putraku ini menjadi anak yang sholeh, pintar, cerdas, baik hatinya, baik rupanya, dan patuh kepada kedua orangtuanya. Selama dalam gendongan pertamaku, bayi mungilku sesekali menoleh seolah memperhatikan  dan mendengarkan apa yang saya ucapkan dan mengamini semua doa yang saya bisikkan ditelinganya.</p>
<p>Tak berapa lama bidan datang dan mengambil bayi mungilku untuk segera dibawa ke ruang bayi dan dimasukkan semacam kota kaca dan di dalamnya ada lampu untuk menjaga kehangatan suhu dalam kotak. Kotak ini berfungsi untuk menjaga suhu bayi agar bayi dapat beradaptasi dengan suhu di luar setelah selama 9 bulan lebih berada dalam kehangatan rahim ibu.</p>
<p>Sekitar 15 kemudian satu persatu dokter yang menangani kelahiran bayi saya keluar dari ruangan. Yang pertama keluar ruangan adalah psikiater yang juga ikut memberikan dorongan secara psikologis agar istriku saat melahirkan tidak merasa takut. Saya segera mengucapkan terima kasih dan dibalas dengan ucapan selamat atas kelahiran putraku. Lima menit kemudian dokter spesialis anestesi yang keluar dari ruangan, saya pun segera mengucapkan terima kasih dan sama dengan psikiater tadi akupun dibalas dengan ucapan selamat atas kelahiran bayiku. Yang terakhir keluar adalah Dokter Widjajanto, dokter spesialis kandungan yang  memimpin operasi dan mengawal kehamilan isteriku sampai kelahiran bayiku. Saya segera menyalami dan mengucapkan terima kasih, kemudian dibalas dengan senyum dan memarahiku.</p>
<p>&#8220;Kenapa baru sekarang  dioperasi&#8230;? Kalau terlambat bisa fatal lho akibatnya. Bapak mau menanggung akibatnya?&#8221;</p>
<p>Kalimat itulah pertama yang aku ingat saat dokter Widjajanto menemuiku. Saya segera meminta maaf dan mengatakan bahwa isteriku masih perlu persiapan mental untuk menghadapi operasi caesar. Sambil menulis beberapa resep obat yang harus dikonsumsi oleh isteri Beliau memberikan saran-saran dan nasihat kepada saya mengenai kondisi isteri dan bayi saya. Setelah selesai menandatangani semua berkas-berkas selanjutnya dokter berpamitan untuk meninggalkan rumah sakit sambil sekali lagi mengucapkan selamat atas kelahiran putraku, entah itu ucapan selamat kelahiran bayi yang keberapa ratus yang telah diucapkan oleh dokter kepada para pasiennya. saya segera membalas menyalaminya diikuti oleh ibu, kakak, pak de, dan saudara-saudaraku yang ikut mengantar malam itu.</p>
<p>Lima menit setelah kepulangan dokter, isteriku dibawa keluar dari ruang operasi, untuk dipindah ke ruang perawatan intensif pascaoperasi.  Saat keluar dari pintu operasi aku bisikkan di telinganya bahwa anak kita selamat dan wajahnya tampan serta tak lupa aku katakan, &#8221; Mama Hebat..!&#8221;</p>
<p>Di ruangan pascaoperasi ternyata sudah ada sekitar 2 orang yang juga selesai dioperasi. Di sebelah kiri tempat tidur isteriku adalah seorang ibu yang sudah tua baru selesai operasi kanker rahim. Sedangkan di sebelah kanan adalah seorang wanita paruh baya yang juga baru selesai operasi melahirkan seperti isteriku, yah selisih hanya 2  jam sebelum isteriku dioperasi.</p>
<p>Tak henti-hentinya aku bersyukur mengucapkan alhamdulillah seraya berdoa semoga putra kami ini benar-benar menjadi putra yang sholeh sesuai harapan kedua orang tuanya. Peristiwa ini tak akan pernah terlupakan, perasaan khawatir bercampur aduk dengan gembira dan  perasaan yang kemarin seolah menyesakkan dada kini rasanya sudah agak berkurang. Ibarat botol yang ditutup dengan sumbat dan air yang di dalamnya selalu mendesak ingin keluar, kini sumbat itu sudah terpental akibat terdesak air dalam botol yang memberikan tekanan dan ledakan yang hebat, sehingga air merasa lega dan bebas  karena dapat dengan leluasa bertemu udara.</p>
<br />Posted in Tentang Si Kecil  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/nasikhlilsidi.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/nasikhlilsidi.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/nasikhlilsidi.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/nasikhlilsidi.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/nasikhlilsidi.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/nasikhlilsidi.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/nasikhlilsidi.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/nasikhlilsidi.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/nasikhlilsidi.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/nasikhlilsidi.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/nasikhlilsidi.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/nasikhlilsidi.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/nasikhlilsidi.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/nasikhlilsidi.wordpress.com/59/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nasikhlilsidi.wordpress.com&amp;blog=3804290&amp;post=59&amp;subd=nasikhlilsidi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nasikhlilsidi.wordpress.com/2009/10/30/saat-yang-dinanti-itu-kini-tiba/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bb6313749847bd375b1c8a00c26dc8a3?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">nasikhlilsidi</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://nasikhlilsidi.files.wordpress.com/2009/10/s40258091.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">S4025809</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Memaknai Hidup dengan Kata Mutiara</title>
		<link>http://nasikhlilsidi.wordpress.com/2009/02/23/54/</link>
		<comments>http://nasikhlilsidi.wordpress.com/2009/02/23/54/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Feb 2009 04:23:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nasikhlilsidi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nasikhlilsidi.wordpress.com/?p=54</guid>
		<description><![CDATA[Kata mutiara dapat menjadi sebuah pemompa semangat untuk lebih memaknai hidup. Melalui kata mutiara kita dapat berkaca, tersenyum, atau tertawa terhadap diri kita sendiri. Kita dapat mengukur tindakan yang kita lakukan atau sikap yang kita perbuat dengan nurani kita. Mari kita renungkan. A healthy man has a hundred wishes, a sick man has only one. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nasikhlilsidi.wordpress.com&amp;blog=3804290&amp;post=54&amp;subd=nasikhlilsidi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kata mutiara dapat menjadi sebuah pemompa semangat untuk lebih memaknai hidup. Melalui kata mutiara kita dapat berkaca, tersenyum, atau tertawa terhadap diri kita sendiri. Kita dapat mengukur tindakan yang kita lakukan atau sikap yang kita perbuat dengan nurani kita. Mari kita renungkan.<em></em></p>
<p><strong>A healthy man has a hundred wishes, a sick man has only one.<br />
</strong>Orang yang sehat mempunyai seratus keinginan, orang yang sakit hanya punya satu keinginan</p>
<p><em><span id="more-54"></span></em><strong>Politeness is the oil which reduces the friction against each other. (Demokritus).</strong><br />
Sopan santun adalah ibarat minyak yang mengurangi gesekan satu dengan yang lain. (Demokritus)</p>
<p><strong>Real power does not hit hard, but straight to the point.<br />
</strong>Kekuatan yang sesungguhnya tidak memukul dengan keras, tetapi tepat sasaran</p>
<p><strong>Yang terbaik di antara kalian adalah mereka yang berakhlak paling mulia.</strong><br />
Nabi Muhammad SAW</p>
<p><strong>Raihlah ilmu, dan untuk meraih ilmu belajarlah untuk tenang dan sabar.</strong><br />
Khalifah ‘Umar</p>
<p><strong>Niat adalah ukuran dalam menilai benarnya suatu perbuatan, oleh karenanya, ketika niatnya benar, maka perbuatan itu benar, dan jika niatnya buruk, maka perbuatan itu buruk.<br />
</strong>Imam An Nawawi</p>
<p><strong>Aku mengamati semua sahabat, dan tidak menemukan sahabat yang lebih baik daripada menjaga lidah. Saya memikirkan tentang semua pakaian, tetapi tidak menemukan pakaian yang lebih baik daripada takwa. Aku merenungkan tentang segala jenis amal baik, namun tidak mendapatkan yang lebih baik daripada memberi nasihat baik. Aku mencari segala bentuk rezki, tapi tidak menemukan rezki yang lebih baik daripada sabar.<br />
</strong>Khalifah ‘Umar</p>
<p><strong>Pengetahuan tidaklah cukup; kita harus mengamalkannya. Niat tidaklah cukup; kita harus melakukannya.</strong><br />
Johann Wolfgang von Goethe</p>
<p><strong>Pencegahan lebih baik daripada pengobatan.<br />
</strong>Johann Wolfgang von Goethe</p>
<p><strong>Ilmu pengetahuan tanpa agama adalah pincang.</strong><br />
Einstein</p>
<p><strong>Perdamaian tidak dapat dijaga dengan kekuatan. Hal itu hanya dapat diraih dengan pengertian.</strong><br />
Einstein</p>
<p><strong>Agama sejati adalah hidup yang sesungguhnya; hidup dengan seluruh jiwa seseorang, dengan seluruh kebaikan dan kebajikan seseorang.</strong><br />
Einstein</p>
<p><strong>Dua hal yang membangkitkan ketakjuban saya &#8211; langit bertaburkan bintang di atas dan alam semesta yang penuh hikmah di dalamnya.</strong><br />
Einstein</p>
<p><strong>Berusahalah untuk tidak menjadi manusia yang berhasil tapi berusahalah menjadi manusia yang berguna.</strong><br />
Einstein</p>
<p><strong>Tidak semua yang dapat menghitung dapat dihitung, dan tidak semua yang dapat dihitung dapat menghitung.<br />
</strong>Einstein</p>
<p>Tanda Orang Bijaksana Ialah Hatinya Selalu Berniat Suci;<br />
Lidahnya Selalu Basah Dengan Zikrullah; Matanya Menangis Kerana Penyesalan (Terhadap Dosa); Sabar Terhadap Perkara Yang Dihadapi Dan<br />
Mengutamakan Akhirat Berbanding Dunia.</p>
<p>” Jika kejahatan di balas kejahatan, maka itu adalah dendam. Jika kebaikan dibalas kebaikan itu adalah perkara biasa.<br />
Jika kebaikan dibalas kejahatan, itu adalah zalim. Tapi jika kejahatan dibalas kebaikan, itu adalah mulia dan terpuji.”<br />
(La Roche)</p>
<p>“Selemah-lemah manusia ialah orang yg tak mau mencari sahabat dan orang yang lebih lemah dari itu ialah orang yang mensia-siakan sahabat yang telah dicari” -<br />
(Sayidina Ali)</p>
<p>” Perkataan sahabat yang jujur lebih besar harganya daripada harta benda yang diwarisi darinenek moyang” &#8211; (Sayidina Ali)</p>
<p>Masa depan itu dibeli oleh masa sekarang.<br />
(Samuel Johnson)</p>
<p>Anda bisa, jika Anda berpikir bisa, selama akal mengatakan bisa. Batasan apakah sesuatu masuk akal atau tidak, kita lihat saja orang lain, jika orang lain telah melakukannya atau telah mencapai impiannya, maka impian tersebut adalah masuk akal.</p>
<p>Untuk menjadi sukses, Anda harus memutuskan dengan tepat apa yang Anda inginkan, tuliskan dan kemudian buatlah sebuah rencana untuk mencapainya.</p>
<p>Jika Anda ingin menang— dalam bisnis, karir, pendidikan, olah raga, dsb— maka Anda harus memiliki kebiasaan-kebiasaan seorang pemenang pula.</p>
<p>Jika Anda ingin suatu kehidupan yang berbeda, buatlah keputusan yang berbeda juga.</p>
<p>Tengoklah kembali perjalanan Anda saat ini, akan menuju kemana? Apakah ke arah yang lebih baik, atau ke arah yang lebih buruk, atau tetap saja seperti saat ini? Tetapkanlah sebuah putusan dan jalanilah menuju konsekuensinya.</p>
<p>Potensial pilihan Anda begitu melimpah, keputusan Anda dapat saja merubah hidup Anda secara dramatis dalam waktu singkat.</p>
<p>Hanya satu motivasi yang ada, yaitu Allah. Adapun motivasi lainnya harus dalam rangka “karena dan/atau untuk” Allah.</p>
<p>Cinta terbesar dan cinta hakiki bagi orang yang beriman ialah cinta kepada Allah. Sehingga cinta kepada Allah-lah yang seharusnya menjadi motivator terbesar dan tidak terbatas.</p>
<p>Sukses yang sudah Anda alami di masa lalu akan membantu untuk memotivasi Anda di masa yang akan datang.</p>
<p>Jika niat sudah terpancang karena Allah, tidak akan ada halangan yang bisa menghentikan seseorang melakukan sesuatu. Niat karena Allah ialah motivator yang utama dan seharusnya menjadi satu-satunya motivator kita.</p>
<p>Putuskan apa yang Anda inginkan, kemudian tulislah sebuah rencana, maka Anda akan menemukan kehidupan yang lebih mudah dibanding dengan sebelumnya.</p>
<p>Rencana memberikan arah langkah Anda.</p>
<p>ika Anda mempunyai misi mulia, jangan takut untuk gagal, bukan hasil yang akan dinilai, tetapi usaha Anda untuk mencapainya.</p>
<p>Ketekunan dan kesabaran jika digabungkan menjadi modal yang sangat besar untuk meraih sukses.</p>
<p>Tidak akan ada keberhasilan tanpa tindakan. Tidak akan tindakan tanpa keberanian. Jadi tidak akan keberhasilan tanpa keberanian. Sukses sejalan dengan keberanian.</p>
<p>Jika wawasan Anda akan semakin luas, Anda akan menemukan jalan-jalan baru untuk meraih sukses. Insya Allah dalam waktu yang tidak lama ketakutan pada diri Anda akan hilang.</p>
<p>Sedetik waktu terlewat, tidak akan pernah bisa kembali. Maka jangan sia-siakan waktu yang kita miliki.</p>
<p>Sesungguhnya waktu adalah hidup, dan hidup sendiri adalah menjalani waktu. Sejauh mana Anda menghargai waktu, berarti sejauh itulah Anda menghargai hidup Anda.</p>
<p>Bekerjalah sebaik mungkin, pikirkan berbagai kemungkinan yang terjadi, sehingga jika kemungkinan tersebut datang kita sudah siap. Bisa saja esok akan lebih sulit.</p>
<p>Jangan menganggap diri kita tidak mampu sebelum mencoba, belajar, dan berlatih.</p>
<p>Kita memiliki keunikan masing-masing yang dapat menjadi keunggulan kita masing-masing.</p>
<p>Jika Anda belum merasa memiliki keunggulan saat ini, mungkin Anda belum memiliki semangat yang tinggi dan motivasi yang kuat dalam rangka menggali potensi Anda. Untuk meraih keunggulan lebih tinggi kita memerlukan bantuan orang lain.</p>
<p>Dalam mengahadapi perubahan dan untuk menjadi manusia unggul ada satu jalan yang tidak boleh tidak harus kita lakukan, yaitu selalu memperbaiki diri terus-menerus.</p>
<p>Keutamaan akal ialah hikmah kebijaksanaan, dan keutamaan hati ialah keberanian.</p>
<p>Tidak lurus keimanan seseorang kecuali jika hatinya lurus, dan tidak lurus hati seseorang kecuali jika lurus lidahnya</p>
<p>Orang yang hebat bertindak sebelum berkata dan dia berkata selaras dengan tindakannya.</p>
<p>Bila IQ yang berkuasa, ini karena kita membiarkannya berbuat demikian, dan bila kita membiarkannya berkuasa, kita telah memilih penguasa yang buruk.<br />
.:Robert Stenberg:.</p>
<p>Jenius adalah 1 % inspirasi dan 99 % keringat. Tidak ada yang dapat menggantikan kerja keras. Keberuntungan adalah sesuatu yang terjadi ketika kesempatan bertemu dengan kesiapan.<br />
.:Thomas A. Edison:.</p>
<p>Ketika satu pintu tertutup, pintu lain terbuka; namun terkadang kita melihat dan menyesali pintu tertutup tersebut terlalu lama hingga kita tidak melihat pintu lain yang telah terbuka.<br />
.:Alexander Graham Bell:.</p>
<p>Sumber kekuatan baru bukanlah uang yang berada dalam genggaman tangan beberapa orang, namun informasi di tangan orang banyak.<br />
.:John Naisbitt.:</p>
<p>Kejujuran adalah batu penjuru dari segala kesuksesan, Pengakuan adalah motivasi terkuat. Bahkan kritik dapat membangun rasa percaya diri saat &#8220;disisipkan&#8221; diantara pujian.<br />
.:May Kay Ash:.</p>
<p>Jagalah dirimu baik-baik, usahakanlah kemuliaannya, karena engkau dipandang manusia bukan karena rupa tetapi kesempurnaan budi dan adab -Nabi SAW</p>
<p>Setiap yang kita lakukan biarlah jujur karena kejujuran itu telalu penting dalam sebuah kehidupan. Tanpa kejujuran hidup sentiasa menjadi mainan orang.</p>
<br />Posted in Uncategorized  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/nasikhlilsidi.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/nasikhlilsidi.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/nasikhlilsidi.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/nasikhlilsidi.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/nasikhlilsidi.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/nasikhlilsidi.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/nasikhlilsidi.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/nasikhlilsidi.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/nasikhlilsidi.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/nasikhlilsidi.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/nasikhlilsidi.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/nasikhlilsidi.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/nasikhlilsidi.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/nasikhlilsidi.wordpress.com/54/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nasikhlilsidi.wordpress.com&amp;blog=3804290&amp;post=54&amp;subd=nasikhlilsidi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nasikhlilsidi.wordpress.com/2009/02/23/54/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bb6313749847bd375b1c8a00c26dc8a3?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">nasikhlilsidi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>WAIT FOR MOMENT &#8230;</title>
		<link>http://nasikhlilsidi.wordpress.com/2009/02/23/wait-for-moment/</link>
		<comments>http://nasikhlilsidi.wordpress.com/2009/02/23/wait-for-moment/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Feb 2009 02:59:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nasikhlilsidi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tentang Si Kecil]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nasikhlilsidi.wordpress.com/?p=38</guid>
		<description><![CDATA[Kekuatan silaturahmi memang tak tergantikan untuk meyakinkan hati istriku. Hari itu kami putuskan untuk menunggu sampai ada tanda-tanda kelahiran berikutnya. Kami mengambil keputusan untuk menunggu sambil berikhtiar dengan mendatangkan Mbok Ha untuk melihat posisi bayi apakah masih bisa dikembalikan pada posisi yang lurus, siap untuk melahirkan. Kalau memang tidak bisa ya langsung saja dibawa ke [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nasikhlilsidi.wordpress.com&amp;blog=3804290&amp;post=38&amp;subd=nasikhlilsidi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-medium wp-image-49" title="14" src="http://nasikhlilsidi.files.wordpress.com/2009/02/14.jpg?w=300&#038;h=225" alt="14" width="300" height="225" />Kekuatan silaturahmi memang tak tergantikan untuk meyakinkan hati istriku. Hari itu kami putuskan untuk menunggu sampai ada tanda-tanda kelahiran berikutnya. Kami mengambil keputusan untuk menunggu sambil berikhtiar dengan mendatangkan Mbok Ha untuk melihat posisi bayi apakah masih bisa dikembalikan pada posisi yang lurus, siap untuk melahirkan. Kalau memang tidak bisa ya langsung saja dibawa ke rumah sakit untuk dioperasi.</p>
<p>Ternyata hari itu Mbok Ha tidak bisa datang, akhirnya diputuskan besok Sabtu siang Mbok Ha akan ke Sawojajar. Selama semalam kami tidak melihat ada tanda-tanda, meskipun dalam hatiku berdebar-debar menunggu peristiwa apa yang akan terjadi berikutnya terhadap istrku. Malam itu istriku memang merasakan ada kejang di perutnya, tetapi kejang yang dirasakan adalah kejang seperti malam-malam sebelumnya. Malam itu saya semakin sering mengelus-elus perut istriku sambil berbicara kepada calon bayiku, kadang istriku senyum-senyum saja sambil pura-pura melihat TV atau tidur-tiduran.</p>
<p><span id="more-38"></span>Esok harinya sekitar pukul 9 pagi kami dikejutkan oleh telepon dari Pak Lik istriku, Pak Hamim, yang telepon bahwa pagi ini mereka sudah berada di Malang. Sekarang sudah berada di Arjosari, rencananya mau ke rumah kami di Sawojajar. Karena tidak mengetahui jalan menuju ke arah sana,  saya meminta untuk menunggu di sana biar saya yang menjemput. Beberapa  saat kemudian saya berangkat ke Arjosari yang memang tidak terlalu jauh dari rumah kami, sekitar 4 km.</p>
<p>Pagi itu Pak Hamim datang bersama keluarga. istri dan 3 orang putranya. Sampai di rumah kami Pak Hamim dan keluarga beristirahat serta mengobrol saling menanyakan kabar masing-masing atau kabar saudara-saudara di Paleran, Jember. Bu Lik yang juga seorang dokter juga menanyakan kapan perkiraan akan melahirkan, istriku menceritakan semua kejadian sejak dari lebaran di Bululawang sampai pagi hari ini. Pak Hamim dan Bu Lik akhirnya menyarankan untuk segera aja dibawa ke rumah sakit dan menawarkan kepada kami untuk mengantar ke rumah sakit hari itu juga.</p>
<p>&#8220;Waduh, Bu Lik saya tidak enak dengan ibu-bapak&#8230; terus terang kalau dibawa sekarang dan langsung operasi tanpa memberitahu bapak-ibu dan mertua. Wah..bisa-bisa saya disalahkan.&#8221; Kata istriku kepada Bu Lik, &#8220;saya mengucapkan terima kasih tawarannya, tapi ini nanti sore masih akan diusahakan dulu supaya bisa lahir normal, jika tidak bisa dan harus operasi ya tidak apa-apa, hari ini bu mertua akan ke sini dan ibu Jember juga ke sini, ini tadi sudah telepon dan sudah berangkat, insyaAllah sampai di Malang sekitar jam 2 sore.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya sudah kalau begitu, saya dan Pak Lik hari ini menginap di hotel supaya besok bisa melihat bayi yang kamu lahirkan.&#8221; kata Bu Lik menimpali.</p>
<p>Saya menawarkan untuk menginap di rumah kontrakanku saja, tetapi mereka menolak. Setelah sholat dhuhur Pak Lik dan keluarga pamitan mencari hotel untuk menginap malam itu. Karena menurut Bu Lik paling lama istriku akan melahirkan besok pagi sehingga masih bisa melihat bayi yang dilahirkan istriku.</p>
<p>Sekitar pukul 2 siang ibu Bululawang datang bersama Mbok Ha untuk melihat keadaan isteriku. Aku sudah ditelepon oleh Pak De bahwa ibu sudah tiba di Malang. Karena jalan menuju  rumah kontrakan masih menggunakan sistem &#8220;<em>One Gate</em>&#8221; artinya hanya menggunakan satu jalan masuk dan keluar dari tempatku tinggal. Aku langsung menjemput Pak De dan ibu Jember di perempatan gang menuju rumah kontrakan.</p>
<p>Tak berapa lama kemudian ibu Jember datang, aku berada di depan untuk memandu melewati jalan menuju rumah kontrakanku. Sesampai di rumah istriku masih diperiksa dan diurut oleh Mbok Ha. Yah memang cukup lama, akhirnya selesai juga.</p>
<p>&#8220;InsyaAllah sudah bisa dikembalikan, tetapi saya tidak berani menjamin karena posisi bayi belum memasang pada pinggul ibunya. Pinggul si ibu memang agak kecil, pokoknya nanti kalau sudah terasa mulai sakit, segera saja dibawa ke dokter, gak usah nunggu.&#8221; begitu kata Mbok Ha.</p>
<p>Malam itu Mbok Ha juga memijat ibu yang agak kelelahan karena perjalanan dari Jember ke Malang. Malam itu kami berbagi cerita dengan ibu Bululawang dan ibu Jember. Kami banyak mendapatkan nasihat dan petuah mengenai seputar kehamilan dan merawat anak.</p>
<p>Esoknya hari Minggu berjalan seperti biasa, tidak ada tanda-tanda apapun, tetapi kami masih diliputi kekhawatiran. Sampai malam hari istriku masih belum merasakan gejala apapun, bahkan sampai pukul 9 malam istriku masih menerima tamu yang silaturahmi hari raya ke rumah. Setelah tamu terakhir pulang sekitar pukul 9.30, aku, ibu Jember, dan istriku ngobrol di kamar. Istriku sambil tidur-tiduran kami cerita-cerita kepada ibu. Tak berapa lama perut istriku mulai terasa sakit, kemudian pinggang juga terasa berat, istriku agak mengerang katanya seolah-olah mau buang air besar. Tapi tak berapa lama kemudian hilang kembali normal, aku dan ibu sebenarnya khawatir dan segera mengajak ke rumah sakit. Akan tetapi istriku menolak, alasanya sekarang sudaj malam, besok pagi saja, toh dokternya kalau malam begini juga tidak ada. Dan sekarang sudah tidak sakit lagi katanya, kalau sampai besok mungkin masih kuat kata istriku.</p>
<p>Selang 30 menit kemudian istriku merasakan sakit yang sama, akhirnya tanpa bertanya lagi kepada isteriku. AKu dan ibu memutuskan untuk menelepon rumah sakit dan memberitahu ibu Bululawang bahwa kami malam ini akan membawa istriku ke rumah sakit. Melalui telepon ibu Bululawang juga memberikan penguatan agar segera dibawa ke rumah sakit, kasihan ibunya. Melalui telepon pihak rumah sakit mengatakan bahwa malam ini tidak ada dokter yang ada bidan. Nanti akan diperiksa bidan dulu, kalau bisa ditangani bidan ya langsung akan ditangani, jika tidak bisa akan diteleponkan dokternya.</p>
<p>Setelah ibu Bululawang datang bersama Cak Zaki, isteriku langsung dibawa ke Rumah Sakit Anak dan Ibu &#8220;Melati Husada&#8221; di Jalan Kawi seperti yang telah kami rencanakan sebelumnya. Rumah sakit ini aku pilih bersama isteri atas pertimbangan di RS ini bisa menerima ASKES sehingga bisa meringankan biaya melahirkan. Yang kedua juga atas persetujuan isteriku, karena dia merasa nyaman sebab suasana RS seperti di rumah biasa, tidak ada bau obat-obatan atau orang yang sakit, serta pelayanan perawatnya juga menyenangkan.</p>
<div id="attachment_46" class="wp-caption alignright" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-46" title="s4025824" src="http://nasikhlilsidi.files.wordpress.com/2009/02/s4025824.jpg?w=300&#038;h=225" alt="RSAB Melati Husada tempat isteriku melahirkan" width="300" height="225" /><p class="wp-caption-text">RSAB Melati Husada tempat isteriku melahirkan</p></div>
<p>Setelah diperiksa oleh bidan dan direkam perkembangan janin dalam perut isteriku, diduga bayi ini akan sulit untuk keluar secara normal. Kontraksi yang dialami oleh isteriku semakin lama semakin sering terjadi dari tiap 15 menit menjadi tiap 5 menit. Sementara itu bidan sedang mempersiapkan tim untuk menangani isteriku, termasuk menelepon Dokter Widjajanto dan perawat lain yang masuk dalam tim.</p>
<p>Pukul 00.05 WIB aku disuruh tanda tangan persetujuan operasi caesar terhadap isteriku. Satu persatu mulai pukul 00.10 tim yang dikumpulkan bidan sudah mulai berdatangan dua orang perawat laki-laki, disusul kemudian seorang psikiater yang nanti akan mendampingi dan memberikan dukungan kepada isteriku saat dioperasi. Pukul 00.30 dokter yang khusus anestesi datang dan langsung masuk ke ruang operasi.</p>
<p>Sebelum dibawa masuk ke ruang operasi aku sempat menemui isteriku dan memberikan dukungan serta doa. Begitu pula ibu Jember, Ibu Bululawang, Cak Zaki dan Mbak Sih juga iku tmemberikan dukungan. Dari wajah isteriku tampak kulihat wajah ketegangan dan pucat serta mulutnya tampak berkomat-kamit berdoa tiada henti. Sebelum masuk ruang operasi aku sempat berbisik di telinga isteriku.</p>
<p>&#8220;Mama bisa&#8230;.Mama Hebat&#8230;.Hebat&#8230;!!!&#8221; bisikku sambil mengacungkan di jempol tanganku kepada isteriku. Isteriku hanya tersenyum.</p>
<p>Saat memasuki ruang operasi layaknya memasuki  medan pertempuran, segala risiko tak terpikirkan. Dengan menggenggam senjata berupa untaian doa, isteriku melaju ke medan perang, di sana telah menanti segala risiko yang tidak terbayangkan sebelumnya. Di antara ketidakmenentuan dan kekhawatiran akankah menghasilkan kemenangan atau justeru kekalahan yang tidak diinginkan.</p>
<br />Posted in Tentang Si Kecil  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/nasikhlilsidi.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/nasikhlilsidi.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/nasikhlilsidi.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/nasikhlilsidi.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/nasikhlilsidi.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/nasikhlilsidi.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/nasikhlilsidi.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/nasikhlilsidi.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/nasikhlilsidi.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/nasikhlilsidi.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/nasikhlilsidi.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/nasikhlilsidi.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/nasikhlilsidi.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/nasikhlilsidi.wordpress.com/38/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nasikhlilsidi.wordpress.com&amp;blog=3804290&amp;post=38&amp;subd=nasikhlilsidi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nasikhlilsidi.wordpress.com/2009/02/23/wait-for-moment/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bb6313749847bd375b1c8a00c26dc8a3?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">nasikhlilsidi</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://nasikhlilsidi.files.wordpress.com/2009/02/14.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">14</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://nasikhlilsidi.files.wordpress.com/2009/02/s4025824.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">s4025824</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Silaturahmi (Anugerah Lebaran 1429 H,bagian 2)</title>
		<link>http://nasikhlilsidi.wordpress.com/2008/11/10/silaturahmi-anugerah-lebaran-1429-hbagian-2/</link>
		<comments>http://nasikhlilsidi.wordpress.com/2008/11/10/silaturahmi-anugerah-lebaran-1429-hbagian-2/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 10 Nov 2008 07:39:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nasikhlilsidi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tentang Si Kecil]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nasikhlilsidi.wordpress.com/?p=33</guid>
		<description><![CDATA[Malam itu kami memang tidur kurang nyenyak. Malam itu aku bermimpi tentang isteriku yang dioperasi caesar. Kulihat banyak dokter mengelilingi perut isteri, sedangkan aku berada di atas dekat kepala isteriku, sambil sesekali aku membisikkan semangat ke telinga isteriku. Kulihat isteriku sangat cemas dan ketakutan, dan badannya agak lemas, mungkin karena obat bius. Begitulah, bayangan operasi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nasikhlilsidi.wordpress.com&amp;blog=3804290&amp;post=33&amp;subd=nasikhlilsidi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Malam itu kami memang tidur kurang nyenyak. Malam itu aku bermimpi tentang isteriku yang dioperasi caesar. Kulihat banyak dokter mengelilingi perut isteri, sedangkan aku berada di atas dekat kepala isteriku, sambil sesekali aku membisikkan semangat ke telinga isteriku. Kulihat isteriku sangat cemas dan ketakutan, dan badannya agak lemas, mungkin karena obat bius. Begitulah, bayangan operasi terus melayang-layang dalam mimpiku malam itu. Sementara itu isteriku berulang-ulang terjaga karena diarenya yang tak lagi bisa kompromi, entah berapa kali harus bolak-balik kamar mandi.</p>
<p><span id="more-33"></span>Esoknya saat bangun badanku terasa pegal-pegal dan malas sekali untuk bangun. Kulihat isteriku masih pulas tertidur. Kemudian aku bangunkan dan aku segera ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu kemudian melaksanakan sholat subuh. Tak berapa lama isteriku mengikuti, mengambil air wudhu kemudian sholat subuh. Pagi itu selepas sholat subuh sengaja aku memperpanjang dzikir dan doaku kepada Allah SWT untuk menenangkan diriku setelah mendengar kata operasi tadi malam. Belum puas dengan dzikir masih saya tambah lagi dengan membaca Al Qur&#8217;an, waktu yangs empat saya baca adalah surat Yaasin dan Surat Yusuf, seraya berdoa dalam hati atas keselamatan isteri dan anak dalam kandungannya.</p>
<p>Sekitar pukul 7 pagi aku dan isteriku duduk di ruang tamu. Pagi itu kami berdiskusi lagi dengan topik yang sama seperti tadi malam. Pagi itu akau merasa sudah agak tenang, begitu pula isteriku sudah lebih tenang. Apalagi diare isteriku setelah minum obat dari dokter sudah dapat berhenti total.</p>
<p>&#8220;Memang berat untuk memutuskan operasi atau tidak, kita juga tidak tahu apakah bayi ini bisa keluar normal atau tidak? kita juga gak apa risikonya kalau operasi atau tidak operasi. Kalau memang mau operasi kita juga harus musyawarah dulu dengan keluarga baik keluarga dari Bululawang atau kelaurga dari Jember.&#8221; Kataku memulai pembicaraan pagi itu.</p>
<p>&#8220;Lha iya itu, terus bagaimana? sepertinya posisi bayi memang agak ke samping kanan. Apa mungkin ya dalam waktu dekat ini posisi bayi bisa berubah lagi.&#8221; kata isteriku menimpali.</p>
<p>&#8220;Bagaimana kalau kita coba dulu telepon ibu Bululawang, apa perlu dipanggilkan Mbok Ha yang mijat bayi itu dulu atau bagaimana?&#8221; kataku mengajukan usul, &#8220;coba saya telepon dulu.&#8221;</p>
<p>&#8221; Ya coba dulu, siapa tahu posisinya bisa dikembalikan ke posisi yang tepat, sehingga bisa melahirkan secara normal.&#8221; kata isteriku.</p>
<p>Aku segera menelepon ibu di Bululawang dan menceritakan kronologis kejadian mulai periksa sampai pagi hari ini. Dan akhirnya ibu menawarkan, kalau nanti siang Mbok Ha akan dibawa ke Sawojajar untuk melihat kondisi isteriku, apakah masih mungkin untuk dikembalikan posisinya. Ya sudah, berarti keputusannya saya akan menunggu. Akan diusahakan dulu kalau-kalau ada kemungkinan untuk melahirkan secara normal. Kemudian hasil pembiocaraan ini aku sampaikan kepada isteriku dan isteriku mengiyakan saja.</p>
<p>&#8221; Sudah begini saja sekarang kita keliling ke rumah-rumah di kampung sini untuk silaturahmi berhalal bihalal. biar nanti juga agak tenang. Ya sekuatnya saja, gak tahu dapat berapa rumah, yang penting rumah-rumah yang dekat dapat dikunjungi.&#8221; kataku sambil mengajak isteriku untuks egera ganti pakaian.</p>
<p>Akhirnya pagi itu kami keliling mulai dari samping rumah, depan rumah, samping kanan dan kiri, ke rumah Pak RT, yah sekitar 7 rumah beitulah. Itupun  sampai rumah ke-7 isteriku sudah kelihatan kelelahan, akhirnya kami memutuskan untuk pulang. Tanpa terduga sampai di rumah, isteriku sambil melepas sandalnya dia berkata,</p>
<p>&#8220;Wah lega rasanya saya sekarang, soalnya hati saya sekarang agak mantap. Sudahlah saya sudah siap, kalau memang bisa diusahakan melahirkan normal yang melahirkan normal. Tetapi kalau harus operasi ya saya sudah siap, apapunlah. Yang penting selamat dan bayi saya juga selamat.&#8221;</p>
<p>Sambil sedikit tersenyum saya menimpali,</p>
<p>&#8220;Nah gitu a, ya kita usahakan dulu untuk dibenarkan posisinya oleh Mbok Ha, kalau memang harus operasi ya dijalanilah operasi. Mungkin inilah memang jalan yang sudah digariskan oleh Allah, Adik memang harus keluar dengan cara demikian, yang penting itu ibu dan bayinya bisa sehat dan selamat.&#8221;</p>
<p>Siang itu kami agak lega dan bisa makan dengan sedikit enak walaupun dalam benak kami masing-masing masih ada bayangan operasi yang terus melayang-layang, tetapi sudah tidak seperti tadi malam.</p>
<p>Silaturahmi memang membawa hikmah yang cukup besar bagi kami. Dengan silaturahmi bisa memberikan perubahan sikap yang cukup drastis. Dari sikap takut yang tak tentu berubah 180 derajat menjadi sikap pasrah, dari beban pikiran yang cukup berat menjadi sebuah nikmat yang harus disyukuri dengan ikhlas hati. Dengan menyampaikan semua keluhan dan ganjalan hati kepada orang lain yang lebih tahu atau lebih banyak memiliki pengalaman akan meringankan beban pikiran dan menguatkan hati kita untuk menghadapi cobaan atau melangkah dalam mengambil keputusan. Baru di saat seperti inilah aku memahami kekuatan silaturahmi yang selalu didengung-dengungkan oleh Rasullah SAW dalam hadits-haditsnya. Dahsyatnya silaturahmi bisa memutar fakta atau keyakinan yang awalnya masih belum terpikirkan menjadi sebuah keputusan yang diyakini ketetapannya.</p>
<br />Posted in Tentang Si Kecil  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/nasikhlilsidi.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/nasikhlilsidi.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/nasikhlilsidi.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/nasikhlilsidi.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/nasikhlilsidi.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/nasikhlilsidi.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/nasikhlilsidi.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/nasikhlilsidi.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/nasikhlilsidi.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/nasikhlilsidi.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/nasikhlilsidi.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/nasikhlilsidi.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/nasikhlilsidi.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/nasikhlilsidi.wordpress.com/33/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nasikhlilsidi.wordpress.com&amp;blog=3804290&amp;post=33&amp;subd=nasikhlilsidi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nasikhlilsidi.wordpress.com/2008/11/10/silaturahmi-anugerah-lebaran-1429-hbagian-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bb6313749847bd375b1c8a00c26dc8a3?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">nasikhlilsidi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Lebaran di Bululawang (Anugerah Lebaran 1429 H,Bagian 1)</title>
		<link>http://nasikhlilsidi.wordpress.com/2008/10/16/anugerah-lebaran-1429-h-bagian-1/</link>
		<comments>http://nasikhlilsidi.wordpress.com/2008/10/16/anugerah-lebaran-1429-h-bagian-1/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 16 Oct 2008 05:19:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nasikhlilsidi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tentang Si Kecil]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nasikhlilsidi.wordpress.com/?p=18</guid>
		<description><![CDATA[Tiga hari menjelang lebaran suasana di rumah kontrakan terasa sepi karena para tetangga sudah mulai mudik ke daerah masing-masing. Ada yang ke Madura, Kediri, Jombang, Surabaya, dan beberapa daerah lain. Suasana malam hari yang biasanya ramai oleh anak-anak kecil yang bermain selepas berbuka puasa atau selesai sholat Tarawih, kini sunyi, malam seolah bertafakkur menyongsong hari [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nasikhlilsidi.wordpress.com&amp;blog=3804290&amp;post=18&amp;subd=nasikhlilsidi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tiga hari menjelang lebaran suasana di rumah kontrakan terasa sepi karena para tetangga sudah mulai mudik ke daerah masing-masing. Ada yang ke Madura, Kediri, Jombang, Surabaya, dan beberapa daerah lain. Suasana malam hari yang biasanya ramai oleh anak-anak kecil yang bermain selepas berbuka puasa atau selesai sholat Tarawih, kini sunyi, malam seolah bertafakkur menyongsong hari kemenangan yang telah dekat. Hanya sayup-sayup terdengar suara orang yang sedang melantunkan ayat-ayat Al Qur&#8217;an dari arah masjid atau mushola terdekat. Sesekali memang terdengar rengek anak kecil yang menangis merajuk kepada orang tuanya, tetapi selebihnya sepi.<span id="more-18"></span></p>
<p>Malam itu kami tidak sholat tarawih di masjid, memang sengaja diniatkan sholat tarawih di rumah nanti malam. Sebab malam ini saya harus mengantar isteri untuk periksa kehamilan di dokter kandungan.  Setelah menikmati hidangan buka puasa dan sholat maghrib, kami bersiap-siap meninggalkan rumah untuk antre periksa di dokter kandungan. Kelezatan dan barokah menu berbuka menyulut semangat kami untuk segera sampai di dokter kandungan biar segera bisa mengintip adik bayi dalam perut isteriku meski hanya melalui layar USG. USG itu apa ya?..wah saya  lupa menanyakannya pada dokter. Pokoknya alat yang  dipakai dokter untuk mengintip posisi bayi dan keadaan bayi dalam kandungan ibu.</p>
<p>Dengan naik sepeda motor tua kesayangan -walau agak mengkhawatirkan karena belum sempat diservis- Honda Star tahun 1995 warna hitam, saya berboncengan dengan isteri meluncur ke dokter kandungan. Tepatnya terletak di Daerah Kauman, sebelah barat, alun-alun kota, di Rumah Sakit Ibu dan Anak &#8220;Mardi Waluya&#8221;. Dari Sawojajar jaraknya memang lumayan, yah, sekitar 25 menit. Setelah sampai kami langsung daftar antrean, ternyata di situ sudah banyak ibu-ibu dan bapak-bapak yang sedang ngantre. Setelah menunggu sekitar 1,5 jam giliran kami dipanggil masuk.</p>
<p>&#8220;Bagiamana, Bu? ada keluhan?&#8221; kata Dokter Wijajanto menyapa isteriku.</p>
<p>&#8220;Belum ada, Dok. Cuma kaki agak bengkak-bengkak sedikit.&#8221; Jawab isteriku.</p>
<p>Sambil mengganguk-angguk Dokter Wid mempersilakan isteriku untuk menuju ruang periksa. Setelah diperiksa dengan USG, Alhamdulillah,  bayi sudah mulai memposisikan dirinya untuk masuk panggul, dan menuju jalan kelahiran.</p>
<p>&#8220;Bagus, bagus..&#8221; kata dokter.</p>
<p>Kira-kira beginilah sket gambarnya..</p>
<p><a href="http://nasikhlilsidi.files.wordpress.com/2008/10/per1.gif"><img class="alignnone size-full wp-image-20" title="per1" src="http://nasikhlilsidi.files.wordpress.com/2008/10/per1.gif?w=468" alt=""   /></a></p>
<p><a href="http://nasikhlilsidi.files.wordpress.com/2008/10/posisibayi.jpg"><img class="alignright size-full wp-image-23" title="posisibayi" src="http://nasikhlilsidi.files.wordpress.com/2008/10/posisibayi.jpg?w=468" alt=""   /></a></p>
<p>Posisi bayi sudah <em>mapan</em>, tetapi masih di atas tulang panggul, dan masih ada kemungkinan untuk berubah jika bayi terus bergerak/aktif di dalam rahim ibunya.</p>
<p>Selanjutnya dokter memberikan arahan agar isteriku banyak-banyak makan buah-buahan yang dapat mempercepat/ merangsang agar bayinya segera lahir, seperti buah nangka, nanas, pepaya muda. Minggu-minggu ini memang merupakan tanggal kelahiran bayiku menurut perkiraan dokter, dan minggu ini bayiku harus sudah lahir. Dalam hati kami sangat senang sebab sebentar lagi kami sudah bisa menimang si kecil yang sudah lama kami idam-idamkan. Dengan langkah gembira kami meinggalkan ruang dokter, tanpa lupa mengucapkan terima kasih kepada dokter.</p>
<p>Besok malamnya kami berunding dan berencana untuk merayakan Idul Fitri di Bululawang. Setelah sepakat, saya segera menelepon Cak Jeki, kakakku yang pertama, untuk menjemput saya dan isteri di Sawojajar nanti pada malam takbiran. Isteri saya jelas sudah tidak mungkin saya bonceng dengan sepeda motor, terlalu berisiko terhadap kandungannya. Dan tampak jelas wajah kelelahan membawa ke sana ke mari bay dalam rahimnya.</p>
<p>Dua hari sebelum Idul Fitri kami menunaikan zakat fitrah di Masjid Syuhada, di kompleks perumahan Sawojajar. Selama sehari itu kami menata dan bersih-bersih rumah, saya meneruskan membuat rak piring dari kayu halus sampai sore menjelang buka puasa. Malam itu saya sholat Taraweh di rumah, sebab saya khawatir kalau-kalau saat saya taraweh di masjid ternyata isteri saya mengalami kontraksi mau melahirkan. Dari pada sholat di masjid tapi hati was-was ingat yang di rumah, akhirnya saya putuskan untuk shol;at di rumah saja. Hampir tiap malam ketika menjelang tidur isteriku selalu mengeluh kadang bayinya mengencang, kadang kakinya <em>senut-senut</em> karena bengkak dan kelelahan. Kalau sudah begitu kami pasti tidur agak malam, karena saya harus mengelus-elus perutnya atau memijat-mijat kakinya.</p>
<p>Pada malam takbiran kami dijemput oleh Cak Jeki, dengan naik mobil <em>Kuda</em>, isteriku meluncur menuju Bululawang, sedangkan saya naik sepeda motor kesayangan. Saya berangkat belakangan karena harus mengunci dan memeriksa semua jendela dan pintu rumah.</p>
<p>Dengan penuh sukacita kami merayakan hari kemenangan di Bululawang. Selepas sholat Idul Fitri acara dilanjutkan sungkeman dan makan-makan bersama. Sejak malam hari raya itu isteriku semakin sering merasakan bayinya mengencang. Hampir tiap malam saya menemaninya sampai tertidur dan terbangun lagi esok paginya. Hari-hari selama hari raya itu cukup meriah apalagi di rumah ada ponakan-ponakan lain yang lucu-lucu dan agak nakal serta menggemaskan, terutama ada si Enthung atau Allam yang banyak tingkah dan si Eza atau Markeca yang banyak ocehannya. Kami berada di Bululawang selama tiga hari, isteriku tidak kemana-mana hanya di rumah, kalau ada tamu/saudara yang datang kadang ikut menemui. Silaturahmi paling hanya kepada Pak De di sebelah rumah, di sana sempat diberi air zam-zam dan kurma nabi, katanya biar kalau melahirkan bisa lancar dan diberi kemudahan.</p>
<p>Besok sorenya kami berencana untuk kembali ke Sawojajar dan minta diantar oleh Cak Jeki. Karena obat vitamin dari dokter sudah habis kami berencana sekalian saja sebelum ke Sawojajar kami mampir periksa ke Dokter Widjajanto. Hari itu Jumat malam tanggal 3 Oktober 2008, sore itu diantar Cak Jeki ke dokter kemudian ditinggal karena ada keperluan, nanti untuk pulangnya kami berboncengan menggunakan sepeda motor yang saya naiki sendiri saat dari Bululawang sebelumnya.</p>
<p>Setelah antre selama 15 menit akhirnya tiba giliran kami, kami masuk dengan disambut senyum oleh dokter Widjajanto. Seperti biasa dokter selalu menyapa dengan sapaannya yang khas.</p>
<p>&#8220;Bagiamana, Bu? ada keluhan?&#8221; tanya Dokter Wijajanto.</p>
<p>&#8221; Bagiamana sudah dicoba untuk makan buah-buahan yang saya anjurkan kemarin?&#8221; tanyanya lebih lanjut &#8220;masih belum ada reaksi, dari si Bayi?&#8221;</p>
<p>&#8220;Saya sudah makan kemarin, tapi masih belum ada reaksi, cuma kalau malam bayinya seolah sering mengencang.&#8221; jawab isteriku.</p>
<p>Kemudian dokter mempersilakan isteri saya untuk menuju kamar periksa. sambil dibantu oleh perawat isteriku mempersiapkan diri untuk diperiksa oleh dokter. Dokter Wid kemudian datang dan langsung memeriksa dengan alat USG-nya. Setelah diberikan sedikit gel berwarna biru muda di perut isteriku sebagai titik tempat pemeriksaan alat USG, dokter mulai menggerak-gerakkan alat USG-nya untuk mencari kepala bayi. Sejenak dokter agak keseulitan untuk menemukan kepala bayi yang seharusnya sudah berada di perut bagian bawah. Berulang-ulang dokter memberikan gel dan menggerak-gerakkan alatnya, lama-lama tampak dokter agak resah. Ini terlihat dari raut wajahnya, dahinya mulai tampak berlipat-lipat makin lama sepertinya makin banyak, bibirnya pun sudah mulai tampak mengisyaratkan sesuatu kabar yang kurang baik.</p>
<p>&#8220;Lho,..posisinya kok jadi begini, kemarin posisi bayi sudah bagus, sudah pas, bagamana kok bisa begini. Seharusnya posisi kepala bayi sudah berada di perut bagian bawah dan tidak lagi banyak bergerak. Ini sepertinya posisi kepala bayi agak menyamping ke kanan.&#8221; kata Dokter Wid.</p>
<p>Kurang puas dengan alat USG, Dokter Wid memeriksa posisi bayi secara manual dengan memijit/menekan perut isteriku untuk menemukan posisi kepala bayi, ternyata dugaan dokter memang benar posisi bayi agak melenceng ke kanan. Kemudian memeriksa ke bagian lain, untuk memastikan posisi bayi dan keadaan ibu. Sambil manggut-manggut dan mimik muka yang masih menunjukkan kegelisahan, dokter meninggalkan ruang periksa menuju ruang dokter. Saya mengekor di belakangnya, berharap segera mendapatkan penjelasan darinya di ruang dokter.</p>
<p>&#8220;Usia kandungan ibu ini sudah tua dan memang sudah saatnya bayi ini untuk keluar, tetapi posisi bayi spertinya tidak sesuai dengan perkiraan sebelumnya. Minggu kemarin posisi bayi masih normal untuk usia kandungan ibu. Dan dengan posisi minggu kemarin si Ibu masih ada kemungkinan melakukan persalinan secara normal, tetapi setelah melihat posisinya saat ini yang menyamping dan juga ternyata pinggul ibu sempit/kecil sehingga bayi juga akan sulit untuk keluar. Untuk itu saya menyarankan untuk melakukan OPERASI CAESAR saja. Mengingat ini untuk keselamatan bayi sekaligus juga ibunya.&#8221; ucap Dokter Wid sambil menampakkan wajah agak gelisah.</p>
<p>Kira-kira sket posisi bayi seperti ini.</p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://nasikhlilsidi.files.wordpress.com/2008/10/bayi-miring.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-26" title="bayi-miring" src="http://nasikhlilsidi.files.wordpress.com/2008/10/bayi-miring.jpg?w=468" alt=""   /></a></p>
<p>Seolah  ada badai gurun yang menerpa wajahku, menyayat-nyayat hidung, mulut, pipi, mata, dan dahiku, begitu cepat dan tiba-tiba, mendengar keterangan dokter. Dokter memberikan penjelasan dan kemungkinan-kemungkinan alternatif dengan gamblang, sambil mendengarkan penjelasan dokter dan sesekali bertanya, terus terang dalam hati saya masih sedikit shock mendengar kata operasi dari dokter.</p>
<p>Setelah diukur tekanan darah, berat badannya, selanjutnya isteri saya menyusul ke ruang dokter untuk ikut nimbrung mendengarkan keterangan dokter. Tapi tampak dari wajah isteri saya juga agak gelisah, dan mungkin hatinya juga berdebar-debar melihat hasil USG tadi. Ini terbukti dengan tekanan darah yang dihasilkan agak naik dari biasanya.</p>
<p>Oh ya hampir lupa, ini perlu saya ceritakan karena ini juga menjadi perhatian serius dari dokter. Sehari sebelumnya ketika di Bululawang, pagi-pagi isteriku minta dibelikan rujak cingur. Walaupun belum sarapan pagi dan sudah saya ingatkan, isteriku tetap saja menyantap rujak cingur, yah mungkin karena sudah ingin sekali. Enak sih rujaknya, tetapi besok malamnya mulai terasa mual-mual perutnya. Awalnya saya kira gejala mau melahirkan, ternyata mual karena diare. Sehari bisa sampai 8-10 kali ke WC untuk buang air besar. Sampai periksa kehamilan di dokter kandungan isteriku juga masih diare bahkan sedang gencar-gencarnya diare.</p>
<p>Pada saat di dokter itulah isteriku cerita kalau sedang diare. Sambil menahan perut yang mual dan eeknya seolah ingin segera keluar, isteriku mendengarkan penjelasan dari dokter. Setelah sebelumnya gelisah karena hasil pemeriksaan dengan USG, isteri saya bertambah shock ketika mendengar bahwa isteri saya harus operasi caesar untuk mengeluarkan bayinya. Dokter memberikan pilihan untuk melakukan operasi malam itu juga.</p>
<p>&#8221; Bagaimana Bu, malam ini ibu kita infus dan kita hentikan diarenya, kemudian langsung operasi untuk mengeluarkan bayinya? Kalau masih ditunda kasihan ibu dan bayinya. bayinya nanti  semakin hari semakin besar dan posisi bayi akan semakin melintang sehingga bertambah sulit untuk dikeluarkan, sekalipun itu menggunakan operasi.&#8221; kata dokter seolah membujuk kami. &#8221; Pilihan Bapak dan Ibu adalah operasi untuk menyelamatkan ibu dan bayinya, semakin lama si Ibu akan semakin menderita dengan kondisi saat ini.&#8221;</p>
<p>&#8220;Dokter, kami berencana menggunakan Askes untuk melahirkan nanti. Rencana kami akan melahirkan di RSIB Melati Husada jalan Kawi, &#8221; kataku kepada dokter, selanjutnya dengan nada masih belum yakin benar saya bertanya  &#8220;Bagaimana dokter, apakah untuk melahirkan secara normal sudah sulit sekali?&#8221;</p>
<p>&#8221; Ya segalanya kita serahkan kepada Tuhan, kalau saya memberikan <em>advise</em> bahwa kandungan ibu ini harus dioperasi untuk bisa menyelamatkan bayi dan ibunya. Untuk itu saya memberi dua opsi kepada Bapak dan Ibu, pertama bu bisa langsung di sini untuk operasi malam ini juga. Kedua Ibu bisa pulang dulu kemudian besok pagi ke rumah sakit untuk melaksanakan operasi. Pokoknya kalau bisa segera dilakukan, lebih cepat lebih baik.&#8221; kata dokter.</p>
<p>&#8220;Begini saja kalau gitu, Dok. Kami pulang dulu sambil menenangkan hati supaya isteri saya juga siap mentalnya dan nanti juga tidak berpengaruh terhadap tekanan darahnya.&#8221; kata saya sambil sesekali saya melirik ke isteri saya yang tampak sangat gelisah sampai keluar keringat dingin karena diarenya sudah di ujung tanduk.</p>
<p>Akhirnya kami berpamitan sambil kami berjanji bahwa kami besok pagi akan datang ke R untuk melakukan operasi caesar. Dokter memberikan resep obat kepada isteri saya, setelah kami tebus isinya ternyata obat-obat untuk menghentikan diarenya.</p>
<p>Selama di perjalanan kami lebih banyak diam. Sambil mengemudi sepeda motor, pikiranku melayang-layang membayangkan harus operasi untuk mengeluarkan bayiku, membayangkan segala kemungkinan dan akibat yang akan terjadi serta apa saja yang perlu saya siapkan. Belum lagi membayangkan langkah apa yang harus saya tempuh setelah ini nanti sampai di rumah, bagaimana saya memberikan pemahaman dan dorongan kepada isteri saya berkaitan dengan segala kemungkinan yang akan kami hadapi. Seribu atau mungkin beratus-ratus kalimat pertanyaan seolah melayang-layang di depan mataku mengiringi liku-liku jalan yang kutempuh dari tempat Dokter Widjajanto di Jalan Kauman (dulu) melewati jalan Hasyim Asyari kemudian Merdeka Timur atau alun-alun depan Sarinah terus melewati jalan di belakang Balai Kota Malang, Alun-Alun Balai Kota, Jalan Pajajaran, Perempatan Klojen, Rampal, terus lurus sampai Jalan Raya Sawojajar, kemudian masuk perumahan di Jalan Danau Limboto, dan akhirnya sampai di rumah kontrakan kami.</p>
<p>Sampai di rumah keringat dingin isteri saya sudah mengalir di sela-sela jilbabnya, wajahnya tampak pucat. Setelah pintu di buka tanpa menoleh ke belakang lagi isteriku  melepas jilbab dan langsung menuju kamar mandi. Di sanalah isteriku melepaskan bebannya yang telah ditahannya sejak tadi di tempat dokter.</p>
<p>Malam itu masih sepi karena rumah-rumah penduduk di sekitar situ masih banyak yang kosong. Penghuninya masih belum banyak yang datang dari mudik di kampung. Setelah berganti pakaian, saya duduk-duduk di kursi tamu sambil memandang ke luar jendela. Di kepalaku masih seribu pertanyaan yang berputar-putar dan semuanya maih belum ada jawabannya.</p>
<p>Setelah isteriku selesai melaksanakan hajatnya. Tidak berapa lama isteriku juga ikut nimbrung. kami ngobrol ringan tentang hasil pemeriksaan dokter tadi dan masih ada rasa tidak percaya dengan perkataan dokter tentang operasi. Sebenarnya malam itu kami ngobrol hanya untuk menenangkan diri dan sedikit mencari-cari celah dari omongan dokter yang dapat dimanfaatkan sebagai jalan keluar agar bisa malaksanakan persalinan secara normal. Nyatanya sampai malam hari sampai kami mematikan lampu dan menutup korden depan, kemudian menuju kamar untuk tidur, di benak kami masing-masing masih melayang-layang seribu pertanyaan tanpa jawaban. Bahkan sampai tidur pun pertanyaan-pertanyaan itu masih terbawa dalam mimpiku sampai saya bangun pagi hari. Isteriku malam itu tidak bisa tidur selian karena juga memikirkan operasi itu juga karena dia harus bolak-balik ke kamar mandi karena diarenya. &lt;<em>bersambung bagian 2</em>&gt;</p>
<br />Posted in Tentang Si Kecil  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/nasikhlilsidi.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/nasikhlilsidi.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/nasikhlilsidi.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/nasikhlilsidi.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/nasikhlilsidi.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/nasikhlilsidi.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/nasikhlilsidi.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/nasikhlilsidi.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/nasikhlilsidi.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/nasikhlilsidi.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/nasikhlilsidi.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/nasikhlilsidi.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/nasikhlilsidi.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/nasikhlilsidi.wordpress.com/18/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nasikhlilsidi.wordpress.com&amp;blog=3804290&amp;post=18&amp;subd=nasikhlilsidi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nasikhlilsidi.wordpress.com/2008/10/16/anugerah-lebaran-1429-h-bagian-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bb6313749847bd375b1c8a00c26dc8a3?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">nasikhlilsidi</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://nasikhlilsidi.files.wordpress.com/2008/10/per1.gif" medium="image">
			<media:title type="html">per1</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://nasikhlilsidi.files.wordpress.com/2008/10/posisibayi.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">posisibayi</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://nasikhlilsidi.files.wordpress.com/2008/10/bayi-miring.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">bayi-miring</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
