WAIT FOR MOMENT …

14Kekuatan silaturahmi memang tak tergantikan untuk meyakinkan hati istriku. Hari itu kami putuskan untuk menunggu sampai ada tanda-tanda kelahiran berikutnya. Kami mengambil keputusan untuk menunggu sambil berikhtiar dengan mendatangkan Mbok Ha untuk melihat posisi bayi apakah masih bisa dikembalikan pada posisi yang lurus, siap untuk melahirkan. Kalau memang tidak bisa ya langsung saja dibawa ke rumah sakit untuk dioperasi.

Ternyata hari itu Mbok Ha tidak bisa datang, akhirnya diputuskan besok Sabtu siang Mbok Ha akan ke Sawojajar. Selama semalam kami tidak melihat ada tanda-tanda, meskipun dalam hatiku berdebar-debar menunggu peristiwa apa yang akan terjadi berikutnya terhadap istrku. Malam itu istriku memang merasakan ada kejang di perutnya, tetapi kejang yang dirasakan adalah kejang seperti malam-malam sebelumnya. Malam itu saya semakin sering mengelus-elus perut istriku sambil berbicara kepada calon bayiku, kadang istriku senyum-senyum saja sambil pura-pura melihat TV atau tidur-tiduran.

Esok harinya sekitar pukul 9 pagi kami dikejutkan oleh telepon dari Pak Lik istriku, Pak Hamim, yang telepon bahwa pagi ini mereka sudah berada di Malang. Sekarang sudah berada di Arjosari, rencananya mau ke rumah kami di Sawojajar. Karena tidak mengetahui jalan menuju ke arah sana,  saya meminta untuk menunggu di sana biar saya yang menjemput. Beberapa  saat kemudian saya berangkat ke Arjosari yang memang tidak terlalu jauh dari rumah kami, sekitar 4 km.

Pagi itu Pak Hamim datang bersama keluarga. istri dan 3 orang putranya. Sampai di rumah kami Pak Hamim dan keluarga beristirahat serta mengobrol saling menanyakan kabar masing-masing atau kabar saudara-saudara di Paleran, Jember. Bu Lik yang juga seorang dokter juga menanyakan kapan perkiraan akan melahirkan, istriku menceritakan semua kejadian sejak dari lebaran di Bululawang sampai pagi hari ini. Pak Hamim dan Bu Lik akhirnya menyarankan untuk segera aja dibawa ke rumah sakit dan menawarkan kepada kami untuk mengantar ke rumah sakit hari itu juga.

“Waduh, Bu Lik saya tidak enak dengan ibu-bapak… terus terang kalau dibawa sekarang dan langsung operasi tanpa memberitahu bapak-ibu dan mertua. Wah..bisa-bisa saya disalahkan.” Kata istriku kepada Bu Lik, “saya mengucapkan terima kasih tawarannya, tapi ini nanti sore masih akan diusahakan dulu supaya bisa lahir normal, jika tidak bisa dan harus operasi ya tidak apa-apa, hari ini bu mertua akan ke sini dan ibu Jember juga ke sini, ini tadi sudah telepon dan sudah berangkat, insyaAllah sampai di Malang sekitar jam 2 sore.”

“Ya sudah kalau begitu, saya dan Pak Lik hari ini menginap di hotel supaya besok bisa melihat bayi yang kamu lahirkan.” kata Bu Lik menimpali.

Saya menawarkan untuk menginap di rumah kontrakanku saja, tetapi mereka menolak. Setelah sholat dhuhur Pak Lik dan keluarga pamitan mencari hotel untuk menginap malam itu. Karena menurut Bu Lik paling lama istriku akan melahirkan besok pagi sehingga masih bisa melihat bayi yang dilahirkan istriku.

Sekitar pukul 2 siang ibu Bululawang datang bersama Mbok Ha untuk melihat keadaan isteriku. Aku sudah ditelepon oleh Pak De bahwa ibu sudah tiba di Malang. Karena jalan menuju  rumah kontrakan masih menggunakan sistem “One Gate” artinya hanya menggunakan satu jalan masuk dan keluar dari tempatku tinggal. Aku langsung menjemput Pak De dan ibu Jember di perempatan gang menuju rumah kontrakan.

Tak berapa lama kemudian ibu Jember datang, aku berada di depan untuk memandu melewati jalan menuju rumah kontrakanku. Sesampai di rumah istriku masih diperiksa dan diurut oleh Mbok Ha. Yah memang cukup lama, akhirnya selesai juga.

“InsyaAllah sudah bisa dikembalikan, tetapi saya tidak berani menjamin karena posisi bayi belum memasang pada pinggul ibunya. Pinggul si ibu memang agak kecil, pokoknya nanti kalau sudah terasa mulai sakit, segera saja dibawa ke dokter, gak usah nunggu.” begitu kata Mbok Ha.

Malam itu Mbok Ha juga memijat ibu yang agak kelelahan karena perjalanan dari Jember ke Malang. Malam itu kami berbagi cerita dengan ibu Bululawang dan ibu Jember. Kami banyak mendapatkan nasihat dan petuah mengenai seputar kehamilan dan merawat anak.

Esoknya hari Minggu berjalan seperti biasa, tidak ada tanda-tanda apapun, tetapi kami masih diliputi kekhawatiran. Sampai malam hari istriku masih belum merasakan gejala apapun, bahkan sampai pukul 9 malam istriku masih menerima tamu yang silaturahmi hari raya ke rumah. Setelah tamu terakhir pulang sekitar pukul 9.30, aku, ibu Jember, dan istriku ngobrol di kamar. Istriku sambil tidur-tiduran kami cerita-cerita kepada ibu. Tak berapa lama perut istriku mulai terasa sakit, kemudian pinggang juga terasa berat, istriku agak mengerang katanya seolah-olah mau buang air besar. Tapi tak berapa lama kemudian hilang kembali normal, aku dan ibu sebenarnya khawatir dan segera mengajak ke rumah sakit. Akan tetapi istriku menolak, alasanya sekarang sudaj malam, besok pagi saja, toh dokternya kalau malam begini juga tidak ada. Dan sekarang sudah tidak sakit lagi katanya, kalau sampai besok mungkin masih kuat kata istriku.

Selang 30 menit kemudian istriku merasakan sakit yang sama, akhirnya tanpa bertanya lagi kepada isteriku. AKu dan ibu memutuskan untuk menelepon rumah sakit dan memberitahu ibu Bululawang bahwa kami malam ini akan membawa istriku ke rumah sakit. Melalui telepon ibu Bululawang juga memberikan penguatan agar segera dibawa ke rumah sakit, kasihan ibunya. Melalui telepon pihak rumah sakit mengatakan bahwa malam ini tidak ada dokter yang ada bidan. Nanti akan diperiksa bidan dulu, kalau bisa ditangani bidan ya langsung akan ditangani, jika tidak bisa akan diteleponkan dokternya.

Setelah ibu Bululawang datang bersama Cak Zaki, isteriku langsung dibawa ke Rumah Sakit Anak dan Ibu “Melati Husada” di Jalan Kawi seperti yang telah kami rencanakan sebelumnya. Rumah sakit ini aku pilih bersama isteri atas pertimbangan di RS ini bisa menerima ASKES sehingga bisa meringankan biaya melahirkan. Yang kedua juga atas persetujuan isteriku, karena dia merasa nyaman sebab suasana RS seperti di rumah biasa, tidak ada bau obat-obatan atau orang yang sakit, serta pelayanan perawatnya juga menyenangkan.

RSAB Melati Husada tempat isteriku melahirkan

RSAB Melati Husada tempat isteriku melahirkan

Setelah diperiksa oleh bidan dan direkam perkembangan janin dalam perut isteriku, diduga bayi ini akan sulit untuk keluar secara normal. Kontraksi yang dialami oleh isteriku semakin lama semakin sering terjadi dari tiap 15 menit menjadi tiap 5 menit. Sementara itu bidan sedang mempersiapkan tim untuk menangani isteriku, termasuk menelepon Dokter Widjajanto dan perawat lain yang masuk dalam tim.

Pukul 00.05 WIB aku disuruh tanda tangan persetujuan operasi caesar terhadap isteriku. Satu persatu mulai pukul 00.10 tim yang dikumpulkan bidan sudah mulai berdatangan dua orang perawat laki-laki, disusul kemudian seorang psikiater yang nanti akan mendampingi dan memberikan dukungan kepada isteriku saat dioperasi. Pukul 00.30 dokter yang khusus anestesi datang dan langsung masuk ke ruang operasi.

Sebelum dibawa masuk ke ruang operasi aku sempat menemui isteriku dan memberikan dukungan serta doa. Begitu pula ibu Jember, Ibu Bululawang, Cak Zaki dan Mbak Sih juga iku tmemberikan dukungan. Dari wajah isteriku tampak kulihat wajah ketegangan dan pucat serta mulutnya tampak berkomat-kamit berdoa tiada henti. Sebelum masuk ruang operasi aku sempat berbisik di telinga isteriku.

“Mama bisa….Mama Hebat….Hebat…!!!” bisikku sambil mengacungkan di jempol tanganku kepada isteriku. Isteriku hanya tersenyum.

Saat memasuki ruang operasi layaknya memasuki  medan pertempuran, segala risiko tak terpikirkan. Dengan menggenggam senjata berupa untaian doa, isteriku melaju ke medan perang, di sana telah menanti segala risiko yang tidak terbayangkan sebelumnya. Di antara ketidakmenentuan dan kekhawatiran akankah menghasilkan kemenangan atau justeru kekalahan yang tidak diinginkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: